Tantangan Generasi Muda dalam Melestarikan Budaya Lokal

Selamat Hari Sumpah Pemuda Masyarakat saat ini begitu sulit untuk menghindar dari derasnya perubahan akibat kecanggihan teknologi informas...

Tantangan Generasi Muda dalam Melestarikan Budaya Lokal

Selamat Hari Sumpah Pemuda

Masyarakat saat ini begitu sulit untuk menghindar dari derasnya perubahan akibat kecanggihan teknologi informasi. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, setiap orang ‘terpaksa’ tercebur pada masa yang dinaman ‘Era Globalisasi’.

Tatanan kehidupan mengarah pada proses mendunia. Tidak hanya berlaku untuk satu bidang, namun terjadi dipelbagai bidang kehidupan. Misalnya pada bidang politik, sosial, ekonomi, bidang agama, dan terutama sekali pada bidang teknologi.

Tidak bisa dipungkiri jika kemajuan di era globalisasi ini semakin mempermudah kehidupan manusia. Kini ruang dan waktu bukan lagi masalah, karena sudah ada alat transportasi dan teknologi komunikasi yang bisa membuat waktu dan jarak semakin dekat dan singkat.

Namun tidak bisa tidak bahwa akan ada dampak negatif yang juga dialami atas kemajuan ini. Salah satunya adalah perembesan budaya dari negara luar ke dalam sebuah negara yang justru memberikan efek buruk pada generasi muda. Salah satu yang mulai terasa adalah hilangnya kecintaan terhadap budaya lokal.

Bahayanya hal ini justru terjadi kepada generasi muda yang diharapkan menjadi penerus bangsa. Generasi saat ini lebih memilih bermain dengan perangkat gadgetnya dibanding mempelajari budaya. Mall-mall juga begitu penuh dibanding sanggar-sanggar seni yang mengajarkan budaya lokal.

Bahkan terkadang, budaya lokal hanya ketika negeri lain sudah mencomot budaya tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu identitas negara. Contohnya saja adalah saat Malaysia mengklaim Reog Ponorogo, Lagu Soleram atau Tari Pendet. Masyarakat Indonesia begitu geram dan marah atas tindakan ini. Namun jauh sebelumnya, kita tidak berusaha mengenal, mempelajari atau merasa memiliki salah satu kesenian lokal tersebut.

Memang, tantangan untuk memegang teguh budaya lokal memang begitu berat bagi generasi muda. Bagaimana tidak, perangkat teknologi semakin menyenangkan dan memberi kemudahan dalam penggunaannya. Game-game produk luar negeri juga terlihat lebih asik dimainkan ketimbang kesenian lokal. Film-film dibioskop juga lebih dianggap seru dibanding pentas seni dan drama pertunjukan.

Akhirnya, hanya orang-orang tua lah yang mau memainkan kesenian wayang, menari Zapin Api, atau bermain Randai. Sementara generasi muda hanya menonton dan menikmati sesaat, kemudian mereka berlalu dan memilih membuka media sosialnya.

Tapi harus diketahui bahwa budaya lokal merupakan aset penting bagi sebuah negara. Tanpa budaya lokal, Indonesia tidak memiliki identitas jelas di mata dunia. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya. Hal tersebut menjadi sumber informasi kehidupan yang tidak dapat digantikan. Jika terputus pasa generasi saat ini, maka habislah warisan untuk generasi selanjutnya.

Itu artinya tanggungjawab untuk mempertahankan budaya lokal ada di tangan pemuda. Tidak ada yang bisa menggantikan peran ini selain mereka sebagai generasi penerus bangsa. Untuk itu, sangat perlu menumbuhkan kesadaran mereka akan pentingnya kebudayaan ini dari semua lapisan masyarakat.

Menumbuhkan perasaan cinta terhadap budaya Indonesia sudah harus dimulai sejak dini. Artinya sejak anak masih kecil, orang tua sudah harus mengajarkan mereka tentang budaya-budaya yang menjadi warisan leluhur bangsa. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menunjukan video kesenian, mengajak anak ke acara budaya, atau menceritakan dongeng-dongeng yang ada kaitannya dengan budaya lokal.

Pada tingkat sekolah, cara untuk menumbuhkan cinta budaya kepada kaum muda dapat melalui pelajaran muatan lokal (kesenian) berbasis pelestarian seni budaya setempat. Siswa nantinya dikenalkan dengan budaya-budaya dari berbagai daerah yang ada di Indonesia dengan cara yang menyenangkan.

Misalnya saja bisa melalui alat musik, pementasan, atau pameran-pameran tentang kebudayaan. Bisa juga dengan mengajarkan siswa membuat karya seni yang bertema keanekaragaman budaya Indonesia. Dengan cara tersebut siswa dapat mengingat melalui pengalaman yang mereka lakukan ketika mengikuti pelajaran kesenian. Hal ini sangat penting untuk membangun karakter kaum muda Indonesia yang cinta budaya.

Pemerintah juga memiliki andil besar dalam menumbuhkan cinta budaya lokal pada diri pemuda. Tanpa dukungan pemerintah pemuda hanya bisa seadanya dalam mencintai budayanya. Namun dengan dukungan pemerintah, maka mereka akan merasa memiliki tanggungjawab besar untuk menjaga dan melestarikan budaya yang ada.

Jika hal ini sudah dilakukan, giliran generasi muda menerjang arus globalisasi dengan tetap berpegang teguh pada budaya yang ada. Tanggung jawab dipundak itu begitu berat, karena estafet budaya bangsa harus diwariskan kepada generasi selanjutnya. ***

You Might Also Like

0 komentar