Sumpah Pemuda Jadi Momentum Instropeksi Diri Pemuda Masa Kini

Membaca sejak dini akan memberikan wawasan yang lebih luas Sumpah Pemuda Jadi Momentum Instropeksi Diri Pemuda Masa Kini Momentum Sumpa...

Sumpah Pemuda Jadi Momentum Instropeksi Diri Pemuda Masa Kini
Membaca sejak dini akan memberikan wawasan yang lebih luas

Sumpah Pemuda Jadi Momentum Instropeksi Diri Pemuda Masa Kini
Momentum Sumpah Pemuda pada 28 Oktober mengingatkan kita akan pentingnya generasi penerus dalam menggapai perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tanggal ini juga menjadi momentum yang tepat bagi pemuda masa kini untuk melakukan introspeksi diri.

Bukan hanya Bung Karno, atau Bung Hatta saja, namun ada jajaran pemuda yang merapatkan barisan di belakang mereka untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Contohnya saja ketika terjadinya peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Setelah mengetahui, desas-desus kekalahan Jepang pada Perang Dunia kedua, Indonesia pun turut bergejolak. Status quo yang dialami Indonesia membuat pemuda mendesak petinggi negara untuk memproklamirkan kemerdekaan.

Saat itu, terjadi konflik antar generasi jelang proklamasi. Pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamirkan proklamasi. Namun dua tokoh tersebut menolak dan menganggap jika apa yang diinginkan pemuda hanya fantasi belaka, sementara hal itu akan terbentur dengan realitas yang ada.

Namun bukan pemuda namanya jika tidak mampu mendobrak pemahaman yang dibangun oleh para tetua. Dengan semangat 45, mereka tetap ingin agar proklamasi kemerdekaan diproklamirkan dihadapan penduduk Indonesia. Caranya adalah memindahkan dua tokoh tersebut ke Rengasdengklok dan memproklamirkan sendiri kemerdekaan.

Setelah melalui gejolak panjang, akhirnya bayang-bayang kemerdekaan semakin nyata terlihat. Akhirnya Indonesia berhasil merdeka dari penjajahan pemerintahan Jepang atau tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Tanpa para pemuda, mungkin nasib Negara Republik Indonesia tidak mungkin seperti ini.

Simpel bukan? Hanya karena ngeyelnya pemuda mampu merubah Indonesia yang awalnya terjajah kini ditinggal penjajah. Ini hanya sedikit kisah tentang bagaimana besarnya peran pemuda dalam membangun tanah air dan bangsa. Masih banyak sejarah lainnya yang menceritakan bagaimana heroiknya pemuda mengorbankan jiwa dan raga demi negaranya. Seharusnya hal ini bisa menjadi suplemen tersendiri bagi generasi saat ini membangun negeri.

Namun apa yang terjadi dengan pemuda masa kini? Mereka begitu menangis sedih ketika ditinggalkan kekasih. Bahkan ada yang rela mengakhiri kehidupannya hanya karena persoalan asmara. Jika demikian adanya, adakah mereka berpikir soal bangsa dan negara? ‘Tidak’ mungkin menjadi jawabannya.

Lalu anak muda harus bagaimana? Sementara rintangan dan hambatan generasi sudah berbeda. Tidak ada lagi penjajah yang membawa senapan kemana-mana, bahkan dipukul guru di sekolah sedikit saja langsung dibela oleh penegak Hak Asasi Manusia. Adakah hal ini membuat generasi muda kian manja? ‘Ya’ mungkin menjadi jawabannya.

Lantas haruskan kita dijajah lagi agar bisa bangkit layaknya saat dijajah dulu? Jawabnya mungkin ‘Bisa Jadi’. Bukankah kini Indonesia kembali terjajah dengan era globalisasi yang parah. Sebagian mampu berdiri tegak meski dengan deras arusnya, namun sebagian lagi sudah tidak tentu arah.

Sepertinya calon penjajah paham betul, bahwa pemuda adalah penerus sebuah negara. Jika mereka dihancurkan sejak awal, maka penerus sebuah negara hanyalah pemuda bermental lemah, yang hanya memikirkan bagaimana cintanya berjalan baik. Sedangkan urusan lain, tidak bisa terpikirkan dengan baik.

Namun tidak ada alasan menyerah untuk berubah. Jika saat ini yang sudah tua merasakan dirinya manja semasa muda, maka anda masih memiliki anak, keponakan, dan saudara lainnya untuk dibina agar bermental baja.

Jika masih muda namun ingin berubah, maka waktunya masih belum terlambat. Inilah waktunya menyadari bahwa kehidupan begitu singkat jika harus dihabiskan untuk memikirkan hal-hal yang justru merugikan diri sendiri.

Mulailah dari hal-hal kecil di sekita kita. Berfokus pada apa yang menjadi hobi, bersungguh-sungguh terhadap apa yang sudah dimulai. Pantang menyerah terhadap halangan dan rintangan yang menghadang dari sebuah cita-cita.

Jika kita berhasil menyukseskan diri sendiri, maka akan sangat berpengaruh terhadap lingkungan di sekitar. Bahkan tidak jarang, kesuksesan diri pribadi turut membawa nama harum sebuah negara.

Ketangguhan ini harus terus dipupuk. Agar pemuda tidak tumbuh menjadi pribadi manja. Namun tumbuh menjadi pemuda dengan jiwa-jiwa pantang menyerah. Sehingga jika ada negara lain berniat menjajah, pribadi ini siap untuk tidak menyerah kalah, dan tidak akan membiarkan sedikit saja tanah ini dikuasai penjajah.




You Might Also Like

0 komentar