RUMAH INAP Sultan Syarif Qasim II SANG SULTAN SIAK KE-12

"TAKKAN MELAYU HILANG DI BUMI" ---------------------------------------------- SETELAH RUMAH SINGGAH Sultan Syarif Qasim II, TEN...


"TAKKAN MELAYU HILANG DI BUMI"
----------------------------------------------
SETELAH RUMAH SINGGAH Sultan Syarif Qasim II, TENTU ADA
RUMAH INAP Sultan Syarif Qasyim II SANG SULTAN SIAK KE-12

========================================

Semasa hidup, Sultan Syarif Qasyim II, Raja Siak ke-12 selalu bermalam di rumah panggung batu yang kini disebut Rumah Inap. Tak banyak masyarakat Riau yang tahu atas keberadaan rumah tua di Gang Pinggir, Jalan Senapelan, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru itu. Rumah tua bernuansa unik tersebut hingga kini masih berdiri kokoh.

Suatu hari, pada akhir Maret 2014, udara panas belum lesap, meski matahari mulai sembunyi di sebelah barat Kota Pekanbaru. Toh, di dalam ruangan sebuah bangunan tua di Gang Pinggir, Jalan Senapelan, Kecamatan Senapelan, atau di belakang SMK Muhammadiyah Pekanbaru, tetap menebarkan hawa sejuk. Bukan karena dibantu oleh mesin penyejuk ruangan, tetapi memang konstruksi bangunan dirancang agar tetap sejuk dan nyaman.

"Iya, di dalam rumah tua ini memang sejuk, meski cuaca panas dan musim kemarau seperti ini," kata Drs. H Syahril Rais, pemilik rumah yang kini sudah berusia 70 tahun.

Inilah rumah tempat bermalam Sultan Syarif Qasyim II, ketika Sultan Siak ke-12 ini berkunjung ke Senapelan (Pekanbaru), semasa silam. Tak banyak masyarakat Riau atau pun warga sekitar tahu keberadaan rumah tua di Gang Pinggir ini.

"Rumah Inap? Kami tak tahu, yang kami tahu Rumah Singgah di Jalan Perdagangan di tepi Sungai Siak, di bawah Jembatan Siak III," kata Alfis, warga setempat.

Pengakuan warga ini dapat dimaklumi. Ada dua rumah yang selama ini pernah dikunjungi Sultan Siak, yaitu Rumah Singgah dan Rumah Inap. Namun, kebanyakan warga hanya mengetahui keberadaan Rumah Singgah yang berada di Jalan Perdagangan, di tepi Sungai Siak. Sementara Rumah Inap banyak yang belum tahu.

Ketika disebut bahwa Rumah Inap berada di Gang Pinggir yang berjarak 200 meter ke arah darat dari Rumah Singgah, warga pun berdecak heran. "Ooo...itu Rumah Inap? Selama ini yang kami tahu Rumah Singgah. Tapi wajar juga bila Rumah Inap sebagai tempat penginapan Sultan Siak, karena rumah itu memang sudah lama, dan berdiri mungkin bersamaan dengan Masjid Raya Nur Alam," kata Alfis lagi.

Alfis bersama tiga temannya, yang duduk di kedai kopi itu pun meyakini bahwa Rumah Inap tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi. Apalagi bentuk dan struktur bangunan yang berbeda dengan rumah warga lainnya yang masih berdinding papan, kala itu.

Encik Zulkifli, warga Melayu Siak yang dituakan di Pekanbaru juga menilai bahwa Rumah Inap di Gang Pinggir memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi peninggalan sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura di Pekanbaru. Katanya, selain ke Rumah Singgah, semasa Sultan Siak ke-12 hidup, juga selalu bertandang ke Rumah Inap itu.

"Sesuai namanya, rumah tinggal yang berada di Jalan Perdagangan dipakai Sultan Siak sebagai tempat singgah. Sultan rehat sejenak dan sorenya ia kembali pulang ke Siak. Sementara jika Sultan bermalam di Pekanbaru, maka ia harus berjalan ke darat sejauh lebih kurang 1000 meter. Nah, di daratan yang agak berbukit itulah Sultan selalu menginap, yang kini disebut Rumah Inap," jelas Encik yang tinggal di Perumahan Kuantan, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru itu.

Syahril Rais pun mengakui penjelasan dari Encik Zulkifli. Menurutnya, dari Siak ke Pekanbaru, Sultan selalu menyempatkan diri melihat perkembangan "Kota Bertuah". Sesekali, ia menginap di rumah tua berwarna krem itu. "Di rumah inilah Sultan Syarif Qasyim II, Sultan Siak ke-12 menginap, bila bermalam di Pekanbaru," terang Syahril.

Rumah yang kini dihuni Syahril, dulunya adalah milik Komisaris Polisi (Kadi) Zakaria. Datuk Kadi Zakaria dikenal sebagai tokoh agama di zaman Kerajaan Siak Sri Indrapura. Istri Syahril bernama Nurlis adalah keturunan datuk yang menguasai Rumah Inap itu hingga empat generasi.

"Istri saya Nurlis, sudah almarhumah. Mendiang sudah empat keturunan dari Datuk Kadi Zakaria," kenang Syahril, sembari mengusap air matanya.

Tak Mudah Dikunjungi
Tak mudah masuk dalam bilik kecil berukuran 3x4 meter di Rumah Inap itu. Hawa sejuk selalu menyertai seisi kamar, saat terbayang bahwa seorang Sultan Siak pernah mendiami kamar tersebut. Tak pelak lagi, bulu roma di tengkuk dan kedua lengan langsung berdiri tiba-tiba. Belum lagi melihat sejumlah ruangan yang masih terpatri pada pikiran suasana tempo dulu.

Pelak saja, tuan rumah pun menyebut rumah yang didiaminya itu, tidak mudah dikunjungi tamu. Selain suhu ruang sejuk, suasana rumah pun selalu sepi. Maklum, Syahril memiliki empat anak dan semuanya sudah menikah. Kini anak-anak Syahril memilih bermastautin di rumah masing-masing. Sementara Syahril harus rela bersama ponakan laki-lakinya tinggal berdua di dalam Rumah Inap tersebut.

"Memang tak mudah masuk ke rumah ini. Jangankan masuk kamar yang dulu pernah dihuni Sultan, ketika hendak masuk halaman pun banyak yang tak sanggup," tuturnya.

Syahril menjelaskan, salah satu acara televisi swasta nasional pernah berhajat untuk menyosialisasikan sisa-sisa peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang ada di Pekanbaru. Tapi, ketika masih berada di halaman, pembawa acara yang merupakan seorang pelawak nasional itu, tiba-tiba muntah dan jatuh sakit. Akhirnya penasehat spiritual pun terpaksa membatalkan acara tersebut.

"Saya tak tahu mengapa ini terjadi. Tapi mereka terpaksa membatalkan acara kunjungannya di rumah ini," kata Syahril dan menambahkan bahwa kejadian serupa juga pernah dialami para pemburu berita lainnya.

Sementara di salah satu bilik kecil yang terletak di ruang tengah Rumah Inap sebagai saksi bisu yang selama ini sudah terjawab. Di kamar itulah Sultan Siak melepaskan penat di malam hari di atas katil atau tempat tidur terbuat dari paduan besi yang kini mulai sulit dicari.

Halaman Rumah Inap Sultan Syarif Qasyim II, Sultan Siak ke-12, yang terletak di Gang Pinggir, Jalan Senapelan, Kota Pekanbaru, masih terbentang luas. Namun, tidak banyak batang pohon dijumpai di lahan seluas 1.600 meter persegi itu. Hanya dua jenis tunggul yang masih tersisa, dan sudah lama ditebang empunya rumah. Sementara rumput terlihat mengering, namun bunga lili dan asoka masih tumbuh subur di sekitar bangunan berukuran 19,5 x 26 meter persegi.

Rumah panggung batu tua itu masih berdiri kokoh hingga kini. Banyak yang menilai, konstruksi rumah dibangun dengan perencanaan yang matang dan dikerjakan secara sungguh-sungguh. Berbeda dengan bangunan sekarang ini.

"Rumah ini dibangun tahun 1927, setahun setelah Masjid Raya Nur Alam dibuat. Sementara dinding batu tak ada yang retak. Begitu juga kosen pintu dan jendela tak ada yang lapuk. Termasuk kuda-kuda dan atap seng. Semua masih bagus," jelas Drs. H. Syahril Rais, pemilik Rumah Inap itu.

Dijelaskan Syahril, konstruksi bangunan seperti atap seng, kuda-kuda tetap terpasang semula jadi. Tiang kolom dari beton dibuat berukuran 50x50 centimeter mencapai tinggi empat meter dan dipasang sangat dekat. Kuda-kuda kayu berjejer dengan ukuran yang sangat besar mengapit satu sama lain, sehingga menambah kuatnya bentangan.

Sementara lantai bangunan yang dulunya dari papan kayu, kini sudah direnovasi menjadi beton. Tinggi lantai bangunan mencapai 100 centimeter itu, ditopang balok slof berukuran 50x30 centimeter dari beton. Tiga tangga dari beton pun disemat dengan berbagai bentuk corak dan ornamen modern, yang terlihat di luar bangunan dan di dalam rumah.

Rumah Inap itu terbagi atas tujuh ruang yang memiliki fungsi berbeda-beda. Ada ruang tamu, tengah, kamar tidur, pustaka, keluarga dan dapur serta kamar mandi. Ukuran setiap ruang pun tak sama. Ruang tamu berukuran 3x4 meter, ruang tengah 3x8 meter, tiga kamar tidur berukuran masing-masing 3x4 meter. Menyusul ruang pustaka yang berada di sebelah ruang tengah. Keempat ruangan ini terletak di atas lantai bangunan setinggi 100 centimeter.

Ruang keluarga yang luasnya mencapai 16 x 10 meter diikuti dengan tiga ruang tidur. Sedangkan dapur sebagai tempat memasak berukuran 2x3 meter disisinya terletak kamar mandi yang lumayan luas. Semua ruangan ini terletak di lantai bawah.

"Yang banyak diperbaiki adalah bentuk ruangan di belakang, seperti ruang keluarga, dapur dan kamar mandi, karena kondisi sudah lapuk. Ditambah lagi posisi bangunan sangat dekat dengan tanah," jelas Syahril.

Jendela Unik
Ada empat daun jendela terpasang di bilik Sultan Siak ke-12 itu. Masing-masing melekat pada dua sisi kosen kayu yang berukuran besar dan tak lapuk. Yang satu berada di luar dan satunya lagi dipasang kuat dari dalam rumah.

Daun jendela luar dihiasi kaca putih, sehingga mampu memecahkan cahaya yang datang. Sedangkan daun jendela dalam, terpasang jalusi kayu dengan bentuk berlapis yang dibikin untuk menahan panasnya cahaya.

Diantara empat daun jendela luar dan dalam itu, terpasang pula tiang besi berdiamater 15 milimeter, dengan posisi vertikal sebanyak lima buah. Tak mudah mencari besi itu sekarang. Inilah bentuk keunikan terali semasa itu.

"Kalau melihat empat daun jendela dan terali besi berukuran diameter 15 milimeter pada rumah sekarang tak akan ada. Inilah keunikan bangunan lama yang dirancang orang-orang dulu," kata Syahril, yang tinggal di Rumah Inap selama 2 tahun, sebelumnya dihuni oleh keluarga istrinya.

Setiap ruang diisi perabot (furniture) yang masih tertata apik. Namun, sedikit dijumpai perabot yang berusia tua. Tapi, meja, kursi dan dua lemari rak yang terbuat dari kayu meranti berwarna hitam, bisa dikatakan lama dan unik.

Sementara, dinding ruang tengah dan keluarga masih terlihat foto Kadi Zakaria bersama Sultan Siak dan petinggi kesultanan. Diantara belasan foto itu, Kadi Zakaria, selalu tampil di belakang sultan. Sedangkan petinggi kesultanan lainnya terlihat di kedua sisi. Foto-foto tersebut tertata rapi pada bingkai kayu berwarna hitam.

Dari Siam
Keunikan interior bangunan Rumah Inap dengan ornamen Masjid Raya Nur Alam, Jalan Senapelan, Pekanbaru menjadi satu kesamaan yang terlihat. Seperti partisi (pembatas ruang) dari beton membentuk kubah setengah lingkaran, yang membentang di kedua sisi dinding.

Ditambah lagi konstruksi sejumlah tiang pilar dari kolom beton yang tersusun rapat. Konstruksi bangunan inilah menyakini Anas Aismana, Pengurus Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, bahwa arsitek (perancang) dan pekerja Rumah Inap, dikerjakan dari sentuhan tangan-tangan yang sama dengan pembangunan Masjid Raya Nur Alam, berasal dari Siam, Thailand.

"Konstruksi Rumah Inap ini sama dengan Masjid Raya Nur Alam. Artinya, perancang dan pekerja kedua bangunan itu adalah sama, yaitu berasal dari Siam, Thailand," jelas Anas.

Alasan inilah Anas mengusulkan agar Rumah Inap Sultan Siak dapat dijadikan sebagai warisan leluhur, sesuai UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam aturan konstitusi tersebut, dapat ditekankan bahwa pentingnya cagar budaya sebagai harkat dan martabat negeri.

"Ini suatu keharusan bagi pemerintah dan negara dan seluruh rakyat Indonesia untuk melindungi dan melestarikan benda cagar budaya seperti tertuang dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dan sesuai UU Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya," katanya.

Anas pun menilai, perlindungan benda cagar budaya tidak cukup hanya dengan adanya aturan konstitusi tersebut. Hal ini terbukti masih banyaknya benda cagar budaya yang rusak dan punah- ranah. Untuk itu dibutuhkan keterlibatan seluruh sektor dan partisipasi aktif masyarakat.

"Ini membutuhkan komitmen dan tindakan nyata baik negara dan masyarakat, sehingga dapat ditanamkan kesadaran akan pentingnya arti cagar budaya bagi kemanusiaan," sebutnya.

Pendapat Anas ini juga diamini Ketua LAM Kota Pekanbaru Drs. H Dastrayani Bibra, MSi yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Pekanbaru. Menurutnya, pemeritah sudah menjadikan Rumah Singgah yang berada di Jalan Perdagangan, sebagai aset daerah. Namun, Rumah Inap yang berada di Gang Pinggir, Jalan Senapelan, masih dalam proses.

Sebagai putra daerah, Drs.H Dastrayani Bibra, MSi pun akan terus memperjuangkan Rumah Inap sebagai aset daerah ke depannya. (AJE)

You Might Also Like

0 komentar