WISATA SEJARAH - Monument Kereta Api Pahlawan Kerja

WISATA SEJARAH Monument Kereta Api Pahlawan Kerja ------------------------ oleh : RUDIANTO Bagian Pertama Bukan karena heboh w...


WISATA SEJARAH
Monument Kereta Api Pahlawan Kerja
------------------------
oleh : RUDIANTO
Bagian Pertama

WISATA SEJARAH - Monument Kereta Api Pahlawan Kerja ide

Bukan karena heboh wacana pembangunan/pengadaan Kereta Api Cepat Pemerintahan Jokowi-JK, Bukan pula karena slogan Kerja..Kerja..Kerjanya Kabinet Jokowi-JK.
Tetapi karena anakku & teman-temannya berwisata ke Monument Kereta Api Pahlawan Kerja, kemudian bertanya perihal Kereta Api tersebut.
Berhubung saya pun tidak tau banyak perihal sejarah Monument tersebut, maka saya memboyong anak-anak saya ke rumah orang yang saya rasa mungkin lebih mengetahuinya karena beliau merupakan mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pekanbaru, yaitu Bapak Drs. H. Dastrayani Bibra, MSi.
Obrolan pun dimulai di beranda samping rumah beliau nan sejuk dan tenang sembari menyantap makanan dan minuman yang disuguhkan oleh Ibu Yudiah, istri Beliau.
--------------------------------------------------------

WISATA SEJARAH - Monument Kereta Api Pahlawan Kerja ide

"Wahai kusuma bangsa, anda diboyong Jepang penguasa, bekerja, bekerja, bekerja, nasibmu dihina papa, jasamu tak kulit terurai tulang, di sini anda rehat bersama, tanpa tahu keluarga, tak ada nama dan upacara, namun jasamu dikenang bangsa, andalah pahlawan kerja, ya ALLAH keharibaanMu kami persembahkan mereka, ampunilah, rahmatilah mereka"

Demikian sebuah sajak yang terpahat dibatu yang kemudian dikenal dengan nama Tugu Pahlawan Kerja yang sempat diabadikan anak-anakku melalui kamera yang mereka bawa.

Dialog pun dibuka oleh rasa penasaran anak-anak dengan mempertanyakan mulai dari makam Romusha atau pekerja yang membangun jalur Kereta Api, Pekanbaru - Muaro Sijunjung, lokomotif hitam bernomor C 3322 yang menjadi saksi bisu bahwa memang pernah ada Kereta Api di Riau, serta hal yang digambarkan di relief kekejaman Jepang terhadap para pekerja paksa (Romusha) dan juga relief peta rel Kereta Api Pekanbaru-Muaro Sijunjung.

Dengan suasana santai Pak.Ide, sapaan akrab untuk Drs.H.Dastrayani Bibra, MSi memulai penjelasannya sbb:

“Monument Lokomotif dan Tugu Pahlawan Kerja, tugu terletak di Kecamatan Marpoyan Damai nak, bukannya Kecamatan Bukit Raya seperti yang ananda bilang, tetapi kalau ananda bilang Om mantan Camat Bukit Raya itu baru benar” disambut gelak tawa anak-anak yang menyebut salah seorang anak “Sok Teu” ha..ha..ha....

Monument ini sangat bersejarah dan sudah sangat tua lanjut Pak Ide… Tugu dan Monumen ini diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1958. Monumen Lokomotif menandakan bahwa dulunya pernah ada Kereta Api di Kota Pekanbaru dan di dinding Monumen Lokomotif terdapat gambar kekerasan tentara Jepang terhadap Romusha.

  • Pemerintah Kolonial Belanda telah membuat rencana pembangunan jaringan jalan rel kereta api yang menghubungkan pantai timur dan pantai barat Sumatera


Sebelum Perang Dunia II, Pemerintah Kolonial Belanda telah membuat rencana pembangunan jaringan jalan rel kereta api yang menghubungkan pantai timur dan pantai barat Sumatera, yang akhirnya akan meliputi seluruh pulau Sumatera. Jalur Muaro ke Pekanbaru adalah bagian dari rencana itu. Tapi hambatan yang dihadapi begitu berat, banyak terowongan, hutan-hutan dan sungai serta harus banyak membangun jembatan. Karena belum dianggap layak, rencana itu tersimpan saja di arsip Nederlands-Indische Staatsspoorwegen (Perusahaan Negara Kereta Api Hindia Belanda).

Percakapan sesekali diselingi dengan keluar masuknya Pak Ide ke dalam Rumah menuju meja karjanya sambil berujar “Maklum ya nak, Om sudah tua, jadi biar informasinya tepat Om harus membuka buku juga nih agar ceritanya benar dan akurat”.
Kemudian Beliau melanjutkan obrolan.....

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Jepang mengetahui rencana Kolonial Belanda. Penguasa militer Jepang melihatnya sebagai jalan keluar persoalan yang mereka hadapi. Pembangunan jalan rel yang menghubungkan Sumatera Barat dan pantai timur Sumatera akan membuat jalur transportasi yang menghindari Padang dan Samudera India yang dijaga ketat kapal perang Sekutu. Jalan kereta api baru itu akan memperluas jaringan Staatsspoorwegen te Sumatra’s Weskust (SSS) sepanjang 215 km ke pelabuhan Pekanbaru. Dari sana, melalui Sungai Siak akan mudah mencapai Selat Melaka.

Pekerjaan dimulai September 1943. Para Romusha membangun fasilitas perkereta-apian dan badan jalan rel di Pekanbaru. Mei 1944 para tawanan perang mulai berdatangan. Tapi sebagian romusha dan tawanan perang tidak pernah sampai ke Pekanbaru. Banyak yang terbunuh ketika kapal yang mereka tumpangi tenggelam terkena torpedo Sekutu. Kapal yang mereka tumpangi salah satunya bernama Kapal Maru Junyo dan Waerwijk Van. Sebagian besar romusha pekerja rel ini meninggal karena kurang makan, penyakit dan perlakuan buruk. Akhirnya jalan rel ini selesai pada 15 Agustus 1945, bersamaan dengan penyerahan Jepang pada Sekutu.

Jalan kereta api ini tidak pernah digunakan untuk tujuannya semula, membawa batubara dari Sawah Lunto, Sumatera barat, ke Pekanbaru. Kereta api yang melalui jalan rel ini hanya kereta api pengangkut tawanan perang yang telah dibebaskan. Tidak lama setelah itu jalan rel ini ditinggalkan begitu saja. Para romusha dan tawanan perang yang mengorbankan nyawa untuk pembangunan jalan rel ini mati sia-sia.

“Begitulah sejarah Monument Lokomotif dan Tugu Pahlawan Kerja tersebut anak-anakku” ujar Pak Ide mengakhiri penjelasannya.

Tetapi memang dasar anak-anak, mereka bukannya merasa puas untuk menyudahi obrolan hari itu. Anak-anak malah mengalihkan topik obrolan ke seputar olah raga, yaitu tentang dunia sepak bola karena mereka tau bahwasanya Pak Ide merupakan mantan Manager PSPS Pekanbaru. Alhasil obrolan berlanjut.....

Kunjungan saya dan snak-anak hari itu diakhiri sa’at menjelang Sholat Maghrib, tepatnya disa’at terdengar sayup-sayup lantunan ayat-ayat suci Alqur’an dari pengeras suara Masjid di dekat rumah kediaman Bapak Drs. H. Dastrayani Bibra, MSi.

Dengan raut muka ceria penuh persahabatan anak-anakpun dengan serempak mengucapkan rasa terima kasihnya “Terima Kasih Om Ide....."

Dalam perjalanan kami pulang, terbetik pertanyaannya : Apakah Kereta Api di Riau akan benar-benar tinggal sejarah..?
Berapa lama lagi warga Sumatra, khususnya warga Riau, harus menunggu terwujudnya (kembali) Kereta Api di sini..?
Wallahualam.

INI CERITAKU, APA CERITAMU???

You Might Also Like

0 komentar