Menjalankan Komitmen Untuk Meraih Smart City Award

Menjalankan Komitmen Untuk Meraih Smart City Award Perkembangan jumlah kota pintar (smart city) yang ada pada suatu negara bisa dijadikan ...


Menjalankan Komitmen Untuk Meraih Smart City Award
Perkembangan jumlah kota pintar (smart city) yang ada pada suatu negara bisa dijadikan salah satu indikator kemakmuran negara tersebut. Dari tahun ke tahun, masyarakat dunia khususnya negara-negara maju makin berlomba-lomba untuk menciptakan kota pintar. Di Indonesia sendiri, jumlah kota pintar bisa dikatakan cukup meningkat dari tahun ke tahun, apalagi dengan diselenggarakannya sebuah ajang penghargaan yang bergengsi bernama Smart City Award. Pada tahun 2014, Smart City Award kembali diadakan pada tanggal 14-17 Agustus di Bali. Ajang bergengsi ini diselenggarakan oleh Federasi Pembangunan Perkotaan Indonesia. Sebuah kota layak disebut sebagai sebuah kota pintar jika dapat memenuhi beberapa karakteristik seperti keamanan yang terjamin, kesempatan kerja yang memadai, kestabilan pemerintahan dan sistem ekonomi, lingkungan yang kondusif dengan minimal polusi, pemukiman atau tempat tinggal yang memadai, dan kehidupan yang harmonis. Diperlukan sebuah komitmen yang kuat untuk bisa memenangkan penghargaan Smart City Award. Sedangkan ajang World Smart City Award 2016 lalu, Kota Bandung menjadi salah satu finalis The 2015 World Smart City Awards.

Diperlukan komitmen yang kuat agar bisa meraih tujuan yang sudah dibuat! Kalimat tersebut mungkin sudah seringkali kita dengar. Tapi, apa sebenarnya komitmen itu? Komitment merupakan sebuah sikap dengan kebulatan tekad untuk mencapai tujuan yang sudah dibuat, dan agar berjuang sekeras mungkin untuk mendapatkan tujuan tersebut. Cita-cita, impian, dan tujuan hidup yang tidak disertai komitmen akan sangat sulit untuk dicapai, atau bahkan akan sangat mustahil bisa terwujud.

Apa yang harus dilakukan jika kita sudah menetapkan komitmen? Ada beberapa langkah yang harus kita tempuh dalam menjalankan komitmen untuk mewujudkan tujuan atau keinginan. Misalnya, jika ingin meraih Smart City Award, maka harus segera dimulai sekarang juga. Misalnya, kita bisa mencari panutan atau contoh kota yang sudah pernah meraih penghargaan yang sama. Di Indonesia, kita mungkin bisa mencontoh kota Surabaya, kita bisa melakukan observasi bagaimana kota tersebut menata kotanya dan menjalankan pemerintahannya. Komitmen bisa dilakukan mulai dari hal-hal yang paling sederhana.

Salah satu indikator utama sebuah kota layak mendapat sebutan kota pintar adalah ketika kota tersebut sudah mampu menyediakan akses informasi yang cepat kepada semua warganya. Saat ini ada teknologi yang disebut sebagai teknologi smart city. Teknologi ini mencakup lima elemen, yaitu sensor pintar, komunikasi dari mesin ke mesin, teknologi cloud computing, jejaring sosial, dan Geographical Information System. Sebuah contoh tentang kota yang sudah dilengkapi teknologi smart city adalah semua warga kota bisa dengan mudah memantau kondisi kepadatan jalan raya termasuk kondisi cuaca, ketersediaan tempat parkir, mengetahui jalur-jalur alternatif yang ada, dan sebagainya. Jika semua informasi tersebut dapat diperoleh seluruh warga kota dengan mudah dan akurat, maka kota tersebut sudah bisa dikatakan cukup layak untuk disebut sebagai kota pintar.

Agar bisa menjalankan komitmen untuk sukses meraih Smart City Award, kita perlu benar-benar memahami karakteristik atau konsep kota pintar. Pertama, kunci suksesnya terletak pada faktor kepemimpinan. Pemerintah harus bisa membuat tujuan yang jelas, detail, dengan rentang waktu pencapaian target yang masuk akal. Selain itu, perlu juga diadakan studi banding ke kota-kota yang sudah benar-benar menerapkan konsep smart city.

kunci suksesnya terletak pada faktor kepemimpinan didukung perencanaan yang matang serta keterlibatan berbagai pihak

Kedua, diperlukan perencanaan yang matang dan terarah dalam sistem ekonomi. Pembangunan ekonomi akan menjadi salah satu indikator penilaian dalam Smart City Award. Ketiga, diperlukan adanya keterlibatan seluruh komponen masyarakat mulai dari tingkatan pemerintah hingga tingkatan rakyat biasa. Komitmen tanpa disertai keterlibatan semua komponen masyarakat tidak akan terlaksana dengan baik. Selain itu ada enam unsur smart city yang perlu kita tahu, antara lain Smart Economy, Smart People, Smart Governance, Smart Mobility, Smart Living, dan Smart Environment.

Berikut beberapa penjelasan yang lebih detail mengenai enam unsur smart city. Pertama, Smart Economy. Artinya adalah pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang harus stabil berbasis inovasi dan persaingan sehat. Kedua, Smart People. Hal ini berkaitan dengan sumber daya manusianya. Ketiga, Smart Governance. Hal ini berkaitan dengan keterlibatan pemerintah dalam memberdayakan dan terlibat secara aktif untuk memajukan kota dan meningkatkan kesejahteraan rakayat. Keempat, Smart Mobility. Hal ini berkaitan dengan sarana dan prasarana transportasi yang sudah memenuhi kebutuhan semua lapisan masyarakat.

Kelima, Smart Environment. Pertumbuhan ekonomi biasanya berdampak pada lingkungan, seperti meningkatnya polusi udara karena semakin bertambahnya jumlah pabrik atau industri. Pemeliharaan lingkungan dan upaya-upaya yang dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan menjadi salah satu titik berat penilaian sebuah kota bisa disebut sebagai kota pintar. Keenam, Smart Living. Siapa yang tidak ingin hidup nyaman, berdampingan, dan harmonis di area perkotaan? Kualitas hidup dan budaya masyarakatnya menjadi cerminan kemakmuran atau kemajuan sebuah kota.

Untuk meraih Smart City Award memang diperlukan usaha yang sangat besar dengan melibatkan semua komponen dan lapisan masyarakat kota. Salah satu rahasia untuk bisa menjalankan komitmen agar bisa meraih Smart City Award adalah dengan menciptakan tantangan. Kadang kita tidak bersungguh-sungguh menjalankan komitmen karena kita tidak memberikan tantangan pada diri kita. Dengan menciptakan dan menghadirkan tantangan, kita akan terpacu untuk bekerja dengan lebih keras lagi. Apalagi jika komitmen ini menyangkut tujuan untuk bisa meraih Smart City Award di tahun 2016 atau 2017 nanti. Setidaknya masih ada waktu untuk bisa mengejar ketertinggalan dan melakukan perbaikan dalam kota. Selain itu, selalu upayakan untuk melakukan evaluasi dari setiap pekerjaan atau tindakan yang sudah selesai dikerjakan. Jadi, sudah siapkah menjadi peraih Smart City Award yang berikutnya di tahun 2016 atau 2017 nanti?

You Might Also Like

0 komentar