CERITA KLUB SEPAK BOLA ASYKAR BERTUAH - PSPS ((Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya)

CERITA KLUB SEPAK BOLA ASYKAR BERTUAH PSPS ((Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya) DI BERANDA RUMAH DASTRAYANI BIBRA (Bagian 2 da...

CERITA KLUB SEPAK BOLA ASYKAR BERTUAH - PSPS ((Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya)


CERITA KLUB SEPAK BOLA ASYKAR BERTUAH
PSPS ((Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya)
DI BERANDA RUMAH DASTRAYANI BIBRA
(Bagian 2 dari Wisata Sejarah)
--------------------------------------------------------------------

CERITA KLUB SEPAK BOLA ASYKAR BERTUAH - PSPS ((Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya)

“Om tadi kami sudah mendengar sejarah Tugu Pahlawan Kerja dan kita juga sudah bercerita banyak tentang sepakbola, trus tentunya PSPS Pekanbaru sudah barang tentu juga memiliki sejarah, bisakah kami mendengar cerita Om IDE mengenai Sejarah PSPS Pekanbaru..??” ujar salah seorang teman anak saya yang sedari tadi berbisik (sa’at Pak Ide menjelaskan perihal Monument Kereta Api dan Tugu Pahlawan Kerja), “Dulu Om ini sering aku lihat kalau PSPS Pekanbaru bertanding”, bisiknya, yang kemudian dijawab anak saya “Ya..iyalah..Om Ide kan Manager PSPS” yang disambut rasa penasaran si anak.

Begitu mendengar pertanyaan tersebut Pak Ide sedikit tertegun, sepertinya menurut saya pada saat itu beliau mencoba mengingat-ingat kembali, atau bahkan tidak menyangka akan mendapat pertanyaan demikian. Kemudian setelah meneguk kopi yg tersedia sembari menghisap sebatang rokok Beliaupun melanjutkan obrolan.

"Baiklah anak-anak…Om akan mencoba sebisa Om ya…”

Alangkah senangnya anak-anak mendengar ucapan Pak Ide, sembari berujar serempak "Iya Om”….
Pak Ide pun melanjutkan ceritanya…

Asykar Bertuah sendiri berarti Pasukan Beruntung


“Anak-anak… PSPS Pekanbaru mempunyai julukan yaitu… Anak-anak ada yang tau..?
Seorang teman anak sayapun menjawab dengan lantang.. “Asykar Bertuah..Om”.

Pak Ide pun tersenyum dengan jawaban tersebut, “Ya benar sekali Anakku”.

Asykar Bertuah sendiri berarti Pasukan Beruntung. Sesuai dengan julukan Kota Pekanbaru sebagai Kota Bertuah maka PSPS Pekanbaru diberi julukan Asykar Bertuah, yang diartikan agar PSPS Pekanbaru selalu beruntung dengan memenangi setiap pertandingan baik kandang maupun tandang”ujarnya.



Anak-anakku… Om menangani PSPS Pekanbaru mulai Tahun 2007 semenjak putaran ke II Musim Kompetisi Liga Indonesia, dengan manajemen baru Tim PSPS Pekanbaru berhasil menggeliat dalam percaturan Liga Divisi Utama. Pada musim kompetisi Liga Indonesia 2008, PSPS Pekanbaru, Om mempercayakan Tim dilatih oleh Bang Haji (Abdurrahman Gurning).

Dan di awal musim kompetisi itu PSPS Pekanbaru telah menunjukan kemajuan yang sangat baik, dengan menduduki posisi teratas sementara dengan 6 kemenangan dan 2 kali seri serta tidak terkalahkan. Setelah meduduki peringkat ketiga Divisi Utama, maka PSPS Pekanbaru langsung dipromosikan ke LSI (Liga Super Indonesia) tahun 2009 – 2010.

Mulai musim kompetisi 2008, PSPS naik ke Liga Divisi Utama. Kursi pelatih dipercayakan kepada Mundari Karya. Namun, karena belum jelasnya kesepakatan dengan manajemen, Mundari Karya belum menangani tim PSPS Pekanbaru, dan ditunjuklah mantan pelatih kepala Persitara Jakarta Utara Abdurrahman Gurning sebagai pengganti Mundari Karya.

Manajemen Tim PSPS Pekanbaru pada masa itu adalah : sebagai Manager Om sendiri (Dastrayani Bibra), Asisten Manager Ir. Dityo Pramono dan Sekretaris Tim Drs. Fardiyansyah Akt.

Anak-anak pun semakin penasaran mendengar cerita Pak Ide, saking penasarannya mereka sepertinya terus berusaha menggali lebih banyak fakta dan cerita seputar PSPS Pekanbaru dengan berbagai pertanyaan.

Untuk anak-anakku ketahui, tidak gampang mengangkat PSPS Pekanbaru untuk menjadi klub sepakbola yang disegani di kancah sepakbola nasional. Selama 44 Tahun hingga melangkah ke Divisi Utama PSSI tahun 1999. PSPS selalu berharap dan berharap..

Mulai dari periode kepengurusan pertama yang dipimpin mantan Kepala PLN PEKANBARU, Yubahar. Saat itu langkah PSPS hanyalah klub sepakbola kecil yang hanya didukung lima klub anggota yang terdiri dari PS IPP (Ikatan Pemuda Pekanbaru), PS Pelayaran, PS Caltex, PS PU (Pekerjaan Umum) dan PS Elektra (PLN).

Tanpa disangka seorang anak bertanya sesuatu yang juga tidak saya sangka sama sekali, “Jadi Om Ide dulu bermain sebagi apa..?”

Dengan diselingi senyum Pak Ide menjawab
“Pada masa itu Om tidak bermain di PSPS, tapi Om bermain di klub sepakbola sekolah Om, yaitu SMPP 49 yang pada eranya merupakan klub sepakbola sekolah yang sangat diperhitungkan, Om dan kawan-kawan sangat berterima kasih sekali kepada Guru Olah Raga kami Bapak Simamora yang telah melatih dan membimbing kami".

"Jadi Om harap anak-anakku pun hendaknya selalu menghormati dan menyayangi Guru kalian ya"…
Anak-anak tampak tertunduk malu sejuta makna…

Oya anak-anakku, klub sepakbola sekolah Om dahulu mempunyai seorang kipper yang sangat tangguh yang selalu Om ingat sebab namanya sama dengan nama film fiksi super hero pada masa itu….yaitu namanya “Godam” ujar Pak Ide sambil tertawa kecil, he..he..he..

Baiklah kita lanjutkan ceritanya ya…
Diawal berdirinya, PSPS Pekanbaru sudah menjadi klub sepakbola yang sejajar dengan klub sepakbola lain yang ada di Sumatra, yang memiliki aset berupa pemain nasional. Tahun 1961 PSPS Pekanbaru juga pernah ikut PON di Bandung maka tersebutlah beberapa pemain seperti Thamrin Manaf, Hamid dan Jayusman. Saat itu kondisi pendidikan dan sepakbola berbeda dengan kondisi sekarang.

dr. Thamrin Manaf yang dipanggil ke Timnas, tidak bisa bergabung karena tidak mendapat izin dari sekolah dan tempat ia bekerja. Meski begitu jatah Riau diisi oleh Hamid yang saat itu menjadi kiper nasional. Hamid kala itu sangat diidolakan masyarakat Pekanbaru, Hamid memperkuat Timnas Indonesia di Pyongyang Utara tahun 1963 dibawah pelatih EA Mangindaan.

Besarnya potensi sepakbola di Pekanbaru saat itu pulalah yang kemudian menggiring Gubernur Riau, Kaharudin Nasution untuk mendirikan sebuah stadion yang diberi nama Stadion Dwikora Pekanbaru pada tahun 1963. Meski terbuat dari kayu, stadion ini menjadi pusat olahraga pertama di Pekanbaru.

Pemain PSPS Pekanbaru lain yang juga sempat terdaftar sebagai pemain timnas adalah Jayusman, salah seorang pegawai di kantor pajak. Tetapi sayang, gelandang tangguh ini gagal memperkuat timnas yang sebelumnya telah berencana tampil di Aljazair, saat itu Aljazair sedang terjadi pergolakan.

Era dukungan dan gairah dari masyarakat Pekanbaru tidak berlanjut, era Hamid, Thamrin Manaf, Jayusman hanya menghasilkan kenangan yang indah untuk dikenang.

Kepengurusan demi kepengurusan pun mulai berganti, tercatat beberapa nama sempat menjadi Ketua Umum PSPS Pekanbaru diantaranya Farouq Alwi, yang saat itu menjadi Walikota Pekanbaru, hingga tradisi Ketua Umum PSPS Pekanbaru dijabat oleh Walikota Pekanbaru.

Ditengah kami dengan seksama menyimak penuturan Pak Ide, obrolan terhenti karena anak bungsu beliau Irfan Bibra yang juga merupakan pencinta sepakbola serta merupakan seorang pemain andalan SSB YAPORA Pekanbaru nimbrung bersama kami, sambil berujar, “Ma’af ini ada kue buatan Mama, silahkan dimakan” sambil mengambil posisi duduk bersila bersama dengan anak saya beserta teman-temannya.

Anak-anak kelihatan bertambah semangat melanjutkan obrolan hari itu. Kemudian sambil menyantap kue yang dibuat oleh Ibu Yudiah istri Pak Ide obrolanpun dilanjutkan….

“Pada tahun 1972 pusat pelatihan pemain PSPS Pekanbaru yaitu Stadion Dwikora mengalami kebakaran, dan bangunan utama dari stadion tersebut mengalami kebakaran hebat sehingga tidak dapat digunakan kembali. Stadion yang telah menjadi pusat pembibitan pemain PSPS Pekanbaru ini sempat terbengkalai selama 6 tahun dan hanya menjadi lapangan ilalang.

Hingga akhirnya dibangun kembali oleh PT. Caltex Pacific Indonesia dan diresmikan oleh Gubernur Riau saat itu, Bapak Arifin Achmad pada tanggal 13 Maret 1977. Kemudian pada tanggal 8 Maret 1980 Stadion ini berganti nama menjadi Stadion Hang Tuah dan pengantian namanya diresmikan oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga saat itu, Abdul Gafur,” kata Pak Ide melanjutkan cerita seterusnya…

Setelah Stadion Hang Tuah diresmikan, PSPS Pekanbaru mulai aktif kembali dan PSPS Pekanbaru kembali mampu menggairahkan pemain mudanya untuk memacu prestasi, maka lahirlah pemain seperti Sugiarto yang pernah mengikuti seleksi PSSI Pra Olimpiade tahun 1975. Sejumlah nama juga hadir, hingga sekarang namanya masih disebut kehebatannya antara lain Mahmud (mewakili Sumbagut ke PON di Makassar), Nantan Ibrahim, Nazwar Nurdin, Majid, Margono dan Ujang Jufri.

Usaha PSPS Pekanbaru untuk tampil di kompetisi elite nasional pernah hampir berhasil pada tahun 1984, kala itu kompetisi terbagi antar Perserikatan dan Galatama. PSPS Pekanbaru sebagai klub perserikatan tergabung dalam zona Sumbagut dan berhasil mewakili Sumatera mengikuti babak play off di Cimahi, Jawa Barat untuk ke Divisi Utama. Sayangnya pada salah satu pertandingan, PSPS Pekanbaru tersingkir. PSPS Pekanbaru mengalami kelelahan karena sebagian besar pemain PSPS Pekanbaru berasal dari PS UNRI yang pada saat bersamaan juga sedang melakukan turnamen di Bandung, sehingga harus pulang pergi Bandung-Cimahi.

Saat itu Peluang PSPS Pekanbaru untuk lolos sangat besar sebab diperkuat sejumlah pemain nasional yang juga mereka semua adalah pemain handalan PS BPD RIAU (Bank Riau Kepri sekarang) diantaranya Ricky Darman, Dino Kardinal, Edu Mukhni dan kiper berdarah Tionghoa yang terkenal saat itu, Sutanto Ongso. Saat itu PS BPD merupakan salah satu klub elite yang tidak terkalahkan di Pekanbaru, berkat kepedulian Direktur Utama BPD Riau Syafii Yusuf yang saat itu juga menjadi Manajer PSPS Pekanbaru. Syafii Yusuf dinilai sebagai orang yang mempelopori masuknya pemain dari luar Riau ke Pekanbaru terutama dari Medan dan Padang.

Hingga akhirnya pada tahun 1994, jabatan kepengurusan PSPS dipimpin Iskandar Husin (Ketua DPD Partai NasDem Riau sekarang) yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Transmigrasi Riau. Iskandar Husin juga sukses mempromosikan Persiraja Banda Aceh ke Divisi Utama PSSI, ia berusaha untuk mengembalikan bond perserikatan ini menjadi kebanggaan masyarakat Pekanbaru dan Riau.

Iskandar Husin mendatangkan pemain baru, dibawah pelatih kepala Amrustian, mulailah PSPS Pekanbaru merintis jalan di Divisi Dua menuju Divisi Satu PSSI. Dan perjuangan itu akhirnya berhasil, pada Liga Indonesia tahun 1994/1995. Sejak saat itu PSPS bercokol di Divisi Satu PSSI. Tahun 1995/1996 PSPS Pekanbaru berhasil meraih juara dua Piala Menpora di Bogor serta juga lolos ke PON yang sebelumnya harus melewati seleksi tingkat regional.

Berkat keberhasilan itu Iskandar Husin mendapat pujian masyarakat pecinta bola Pekanbaru. Lalu semakin besarlah harapan dibebankan dipundaknya untuk membawa PSPS Pekanbaru ke jenjang paling bergengsi yaitu Divisi Utama PSSI, namun upaya ini dua kali gagal. Di Liga Indonesia II (LIGINA II) PSPS hanya bisa bertahan tidak terdegradasi, di Liga Indonesia III (LIGINA III) PSPS berhasil masuk 10 besar. Hanya angan-angan dan impian Iskandar Husin untuk mengangkat PSPS Pekanbaru ke Divisi Utama tidak kesampaian, hingga akhirnya Iskandar Husin yang pernah membawa Persiraja ke Divisi Utama PSSI pindah tugas ke Kalimantan Barat.

Dengan raut muka yang berbeda Pak Ide melanjutkan ceritanya…

Anak-anak, Era kebangaan itu akhirnya datang juga. Setelah berkutat di di Divisi II Wilayah Riau, Divisi II PSSI, dan Divisi I PSSI, jalan panjang itu mulai menampakkan titik terangnya. Pergantian kepengurusan dari Iskandar Husin ke Tengku Lukman Jaafar pada tahun 1997/1998 membuat PSPS Pekanbaru bergairah kembali.
Didukung staf yang memiliki kemampuan untuk memanage organisasi, didukung semangat yang bergelora dari semua pengurus terutama peran besar dari Syafli Duyun Tanjung (Alm) yang menjabat sebagai Ketua Harian PSPS Pekanbaru.

CERITA KLUB SEPAK BOLA ASYKAR BERTUAH - PSPS ((Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya)

Dengan merangkul pengusaha muda Riau, Arsyadianto Rahman (Ketua MPW Pemuda Pancasila Riau) sebagai manajer PSPS Pekanbaru di LIGINA IV, PSPS Pekanbaru mulai mendatangkan pemain yang berkualitas untuk mengangkat prestasi sekaligus memotivasi pemain muda. Sayangnya Divisi Utama sempat terhenti satu tahun karena Liga Indonesia IV dihentikan ditengah jalan karena pertukaran pemimpin di Indonesia.

Semangat itu terus muncul hingga akhirnya di Liga Indonesia V pada tahun 1998/1999 kembali diputar. PSPS Pekanbaru melakukan persiapan yang benar-benar matang PSPS Pekanbaru merekrut pelatih nasional, Sofyan Hadi serta mengontrak dua pemain asing yaitu Mourmada Marco dan Essama Raymond, keduanya menjadi idola baru publik Pekanbaru.

Disamping itu PSPS Pekanbaru juga memboyong 10 pemain terbaik di tanah jawa untuk bermain di Pekanbaru, maka muncullah nama Hasyim, Khairul Minan, Kamarudin Betay. Masuknya pemain luar daerah ini justru memberi dampak postitif bagi PSPS Pekanbaru, karena dengan kehadiran mereka pemain lokal PSPS Pekanbaru kembali bergairah untuk bersaing, maka muncullah pahlawan baru seperti Miskardi, Tharjaki Lubis, Agus Rianto.

Memasuki Divisi Utama untuk pertama kalinya setelah dalam penantian 43 tahun. PSPS promosi ke Divisi Utama untuk pertama kalinya dengan predikat juara Divisi Satu dengan mengalahkan PS Indocement Cirebon dengan skor 2-1 di final yang diselenggarakan di Stadion Sanggraha Lebak Bulus, Jakarta.

Para pemain yang memperkuat PSPS saat itu antara lain Miskardi, Aidil Desfi, Darwin, Dodi Cahyadi, Agus Rianto, Toyo Hariono, Mourmada Marco, Simon Tin Atangana, Essama Amougu Raymond, dan lainnya.

Setelah masuk ke Divisi Utama, PSPS sempat diperkuat oleh nama-nama tenar yang telah lama malang melintang di Liga Indonesia, seperti Rahmad M. Rivai, Rino Yuska, Sudirman, Nova Zaenal, Adnan Mahing, Ritham Madubun, I Komang Mariawan, Rusdianto, M. Affan Lubis, (alm) Chairul Minan, Felipe E. Cortez, Alejandro Castro, Gustavo Hernan Ortiz, Ebwelle Bertin, Joe Nagbe, Moses Nyewan, Mbeng Jean, Joseph Lewono, dan beberapa nama lainnya.

PSPS pernah mengalami masa jayanya sewaktu berhasil merekrut pemain-pemain Timnas Indonesia, seperti Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, Hendro Kartiko, Eko Purdjianto, Sugiyantoro, Edu Juanda, Amir Yusuf Pohan dan Aples Gideon Tecuari. Ini berakhir pada musim 2004, saat PSPS mulai melakukan perombakan setelah gagal mewujudkan target juara dalam 2 musim. Ditambah lagi dengan insiden skorsing yang menimpa 3 orang pilar PSPS akibat sikap tidak profesional terhadap wasit.

Sejak saat itu, PSPS mengalami pasang surut dalam prestasi di Liga Indonesia dengan penggantian pelatih yang hampir setiap musimnya dilakukan, mulai dari pelatih nasional maupun lokal Riau seperti Syafrianto Rusli, Miskardi, Abdurrahman Gurning, Mundari Karya, hingga pelatih saat ini, Philep Hansen Maramis.

Sampai disini ceritapun terhenti karena hari sudah senja menjelang malam dengan terdengarnya lantunan Ayat-ayat Suci Al Qur’an dari pengeras suara Masjiid yang ada di dekat rumah kediaman Pak Ide.

Dengan sedikit ada rasa segan sayapun memberanikan diri untuk minta izin pulang.
“Ma’af Pak Ide berhubung waktu Sholat Maghrib sebentar lagi masuk, maka kami mau mohon pamit untuk pulang” ujarku.

Pak Ide dengan senyumnya yang khas dan didampingi si bungsu Irfan Bibra mempersilahkan kami untuk pulang, sambil berujar “Oya..silahkan dan terima kasih atas kunjungannnya, kapan-kapan janganlah kau segan-segan untuk berkunjung ke sini menjalin silahturahmi ini Rud” katanya.

“Ya..insha Allah Pak Ide,IB (Irfan Bibra) ucapku sambil berlalu masuk ke dalam rumah bersama anakku dan teman-temannya untuk menemui Ibu Yudiah guna mohon izin pulang

Melalui tulisan ini, saya Rudianto pribadi mengucapkan “terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Drs. H. Dastrayani Bibra, MSi yang telah dengan senang hati menerima saya dan anak-anak, berbagi cerita yang sangat bermanfa’at bagi kami untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan”. Semoga Pak Ide selalu diberi taufik dan hidayah dari ALLAH SWT.
Aaamiin……

Namun yang menjadi Pertanyaan,
"Kapankah PSSI akan kembali menggelar Liga di Indonesia dan kapan PSPS Pekanbaru akan berjaya dengan TUAHnya..??"

INI CERITAKU, APA CERITAMU?

You Might Also Like

0 komentar