Berani Berinovasi untuk Atasi Sampah Tanpa Masalah - IDE

Berani Berinovasi untuk Atasi Sampah Tanpa Masalah Beberapa bulan belakangan Pekanbaru dipenuhi dengan sampah. Tidak hanya menumpuk, sampa...

Berani Berinovasi untuk Atasi Sampah Tanpa Masalah - IDE

Berani Berinovasi untuk Atasi Sampah Tanpa Masalah
Beberapa bulan belakangan Pekanbaru dipenuhi dengan sampah. Tidak hanya menumpuk, sampah-sampah ini kemudian mulai menimbulkan bau busuk karena dibiarkan lama dan tidak diangkut truk sampah seperti biasanya.

Hal ini tentu menimbulkan ketidaknyamanan ditengah masyarakat. Bayangkan saja, dalam satu hari masyarakat menghasilkan sekitar 600 ton sampah. Tidak hanya berkeluh di sosial media, masyarakat bahkan turun ke jalan menuntut pemerintah menyelesaikan masalah.

Entah apa yang terjadi. Padahal sebelumnya kota ini bersih dan mendapat penghargaan Adipura sampai tujuh kali. Bahkan kini piala yang sudah terkumpul dan terpajang di tugu Adipura hilang tanpa jejak. Entah siapa yang mengambilnya. Namun pelakunya seolah menyadarkan pemerintah bahwa piala tersebut seperti tidak boleh berdiri ditengah kondisi kota yang sedang penuh sampah. Atau bisa juga menjadi isyarat bahwa pemerintah harus kembali mendapatkan piala adipura untuk menggantikan piala yang hilang tersebut.

Keluhan pun datang dari para pasukan kuning yang selama ini menjadi kebanggaan kota. Mereka adalah para petugas kebersihan yang selama ini menjaga kota ini dari sampah berserakan. Impian berlebaran dengan baju baru dan opor ayam nampaknya hanya tinggal harapan. Padahal anggaran untuk kebersihan ini mencapai Rp 53 miliar.

Oke, sekilas pemerintah mungkin merasa aman ketika mengklarifikasi bahwa yang bersalah adalah PT MIG. Namun, masyarakat hanya tahu bahwa persoalan kota adalah masalah pemerintah. Pasalnya masyarakat sudah menaati aturan dengan membayar setiap bulan.

Sepertinya, pemerintah saat ini tidak perlu gengsi untuk belajar dari keberhasilan pimpinan terdahulu. Bagaimana Herman Abdullah membuat masyarakat bangga karena perolehan Adipura.

  • Kita menginginkan lingkungan bersih yang tak mengganggu pihak lain dengan biaya murah.


Saat itu Herman menyerahkan masalah pengelolaan ini kepada kecamatan masing-masing sehingga urusan pengelolaan bisa dilakukan secara mandiri oleh kecamatan. Bukan pihak ketiga, seperti sistem yang diterapkan saat ini. Tidak salah, jika pada akhirnya masyarakat menyalahkan pemerintah sebagai pembuat kebijakan publik.

Meski harus meniru dari daerah lain, pemerintah harus tetap berinovasi dalam membuat kebijakan penanganan sampah. Jika melibatkan pihak ketiga justru menimbulkan masalah, maka belajar dari orang lain agar tidak salah.

Lihatlah bagaimana pemerintah kota Surabaya melibatkan warga dalam menangani kebersihan kota. Di bawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Kota Surabaya mengajak masyarakat lebih kreatif dalam menangani penanganan sampah. Untuk sampah organik, diubah menjadi pupuk kompos, sedangkan anorganik disulap menjadi berbagai macam kerajinan.

Kampung Jambangan di Surabaya menjadi bukti nyata bahwa sampah justru menjadi berkah ketika mampu diolah dengan baik. Masyarakat mendirikan bank-bank sampah untuk menampung sampah-sampah anorganik yang dikumpulkan warga. Selanjutnya pihak pengelola bank sampah menggantinya dengan sejumlah uang sesuai jumlah sampah yang disetorkan ke bank sampah itu.

Selain itu, Setiap 7 rumah dipasang 1 alat untuk mengolah sampah atau komposter. Bahan kompos yang sudah matang, bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman hias atau beberapa jenis sayuran yang mudah ditumbuh-kembangkan dalam pot plastik atau polibag.

Sementara itu, Pemerintah Kota Surabaya sendiri juga memiliki banyak depo sampah dan beberapa rumah kompos. Bahan organik sebagai bahan baku kompos berasal dari sisa-sisa sayur, buah dan ikan yang dikumpulkan beberapa pasar di Surabaya. Selain itu dari daun dan ranting-ranting kecil pepohonan yang ada di beberapa ruas jalan dan taman kota yang ditebang oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Cabang dan batang pohon yang berukuran besar dimanfaatkan untuk bahan bakar pada saat berlangsung proyek pengaspalan jalan.

Hasil gilingan sampah tadi dibiarkan menumpuk lalu disirami dengan air. Setiap 2 atau 3 hari sekali dilakukan pembolak-balikan tumpukan bahan kompos sambil diguyuri air. Demikian seterusnya sampai kompos menjadi matang, butuh waktu sekitar 2 bulan. Kompos hasil inovasi Pemkot Surabaya itu nantinya akan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik yang ditaburkan ke semua taman dibawah pengelolaan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya.

Teknik pembuatan kompos yang diterapkan oleh Pemkot Surabaya dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya itu terbilang sederhana. Namun, mau kah Pekanbaru mengadopsi cara uniknya? Jika ide dari pemerintahan lalu saja enggan dijalankan, bagaimana pula bisa terbuka untuk mencontoh kepemimpinan mereka yang berbeda pulau yang berjauhan?

Kita menginginkan lingkungan bersih yang tak mengganggu pihak lain dengan biaya murah. (RHD)

You Might Also Like

0 komentar